Perihal Cinta dan Rindu
Seorang anak dengan wajah
yang sangat bahagia turun dari mobil yang mengantarkannya pulang kerumah.
Bergegas ia mengambil barang dari bagasi mobil itu kemudian membuka pagar
rumahnya. Terlihat dari Bahasa tubuhnya sepertinya dia sudah sangat merindukan rumah.
Anak itu melepas sepatunya dan mengetok pintu rumah. Beberapa saat kemudian,
pintu terbuka dan terlihat seorang wanita tua tersenyum lebar berusaha untuk menutupi
rasa kantuknya. Anak itu lantas mencium tangan wanita itu seraya berkata “Mama
sehat ?” wanita itu megangguk tanpa menghilangkan senyum diwajahnya. Seketika
pelukan erat menghujam tubuh anak itu. Terlihat seorang ibu yang sudah sangat
rindu akan kehadiran anaknya. Mereka berdua lalu masuk kedalam rumah. Sang ibu
menyuruh sang anak itu untuk menyantap makanan yang telah ia siapkan sejak tadi
sore. Tanpa banyak bicara lagi sang anak menyantap makanan itu. Sebelum tidur
ibu dan sang anak berbincang-bincang sebentar. Sang ibu menanyakan hal-hal
sederhana seperti bagaimana kabar kuliahnya, apakah ada masalah selama disana,
dan lain sebagainya. Sang anak menjawab pertanyaan sang ibu dengan antusias dan
bercerita panjang lebar. Tidak ada yang spesial dari perbincangan malam itu
tapi momen langka itu menjadikan malam itu terasa spesial. Keesokan paginya
disaat sang anak masih terlelap, sang ibu sibuk mempersiapkan makanan kesukaan
anaknya. Mungkin karena kelelahan akibat perjalanan jauh kemarin, sang anak
tetap tertidur pulas meskipun ada berisik-berisik di dapur. Sang ibu tahu betul
bagaimana menyenangkan hati sang anak. Begitu sang ibu selesai memasak, ia
membangunkan sang anak untuk sarapan bersama-sama.
Sang ibu selalu terlihat
bahagia semenjak kedatangan sang anak. Sang ibu kini tak lagi sendiri, ia tak
lagi merasa kesepian. Ia merasa kehadiran sang anak membuat rumah terasa begitu
ramai walaupun sang anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadgetnya. Sang
ibu selalu berusaha mencari cari alasan agar bisa mengobrol dengan sang anak.
Minta diajarkan cara bermain facebook, instagram, hingga aplikasi jual beli
online. Walaupun sudah diajarkan oleh sang anak, hampir setiap harinya sang ibu
selalu minta untuk diajarkan hal-hal tersebut dengan alasan bahwa ia sudah
lupa. Namun ada hal yang tidak pernah sang ibu lupakan sekalipun, setiap
harinya ia selalu bertanya kepada sang anak walaupun ia sudah tau jawabannya
“hari ini dan besok mau dimasakin apa?” begitulah kira-kira pertanyaan sang
ibu. Sang ibu selalu dengan senang hati memasak makanan kesukaan sang anak.
3 minggu kemudian saat
sang ibu dan sang anak sedang makan malam, sang anak menyampaikan sesuatu pada
sang ibu.
Sang
anak : Ma, aku pulang minggu depan ya
Sang
ibu : Loh kok cepet ? bukannya liburnya 2
bulan?
Sang
anak : Iya ma, tadi aku baru dapat kabar kalau
ada tugas yang harus segera aku selesaikan
dikampus.
Sang
ibu :
Harus minggu depan ?
Sang
anak : Iya ma
Sang
ibu : oh yaudah kalau begitu
Sang ibu menutup obrolan itu dengan raut
wajah yang kecewa. Sang anak menyadari hal itu. Dia menyadari bahwa ia telah
membuat sang ibu menjadi sedih. Dia merasa bersalah kepada sang ibu. Sesaat
sebelum tidur sang anak terus terbayang wajah sang ibu setelah percakapan tadi
hingga tanpa ia sadari wajahnya telah basah dengan air mata. Sejak malam itu
sang anak tak ingin lagi membuat sang ibu bersedih
Keesokan
harinya, sang anak tak lagi menghabiskan waktu dengan gadgetnya. Pagi itu ia
menyapu rumah sementara sang ibu memasak didapur. Setelah ia selesai menyapu,
ia pergi kedapur membantu sang ibu untuk menyiapkan makanan. Sejak hari itu
sang anak lebih banyak mengobrol dan bercerita dengan sang ibu. Mulai dari
harga makanan di tempat ia kuliah hingga bercerita tentang seorang wanita yang
ia sukai. Sang ibu mulai melupakan kekecewaannya pada malam itu, ia tak pernah
lagi menunjukkan kesedihannya. Namun sang ibu tak pernah lupa bahwa sebentar
lagi sang anak harus pulang untuk menyelesaikan urusannya. Satu minggu sudah
berlalu, tibalah saat yang berat bagi sang ibu. Ia harus ikhlas karena ia tau
ini demi masa depan sang anak. Sang anak berpamitan kepada sang ibu untuk
pulang. Di perjalanan menuju bandara sang anak tak henti-hentinya memikirkan
sang ibu. Ia menyesal tidak menghabiskan banyak waktu dengan sang ibu. Tapi
waktu sudah berlalu, penyesalan tak akan membuat waktu berputar balik.
Sang
anak tiba di bandara. Ia segera masuk ke bandara untuk melakukan check in. Disaat ia sedang mengantri, ia
melihat orang tua didepannya membawa tas yang lumayan besar. Orang tua itu
terlihat kebingungan saat sedang melakukan check
in. Sepertinya dia tidak mengetahui bahwa di maskapai tersebut barang yang
dimasukkan ke bagasi harus bayar sesuai dengan beratnya. Tas besar yang dia
bawa itu juga melebihi berat yang diperbolehkan untuk dibawa ke cabin sehingga
diharuskan masuk ke bagasi jika ingin dibawa dan harus membayar dengan jumlah
yang tidak sedikit. Tampak kesedihan muncul diwajah orang tua itu. Sang anak
terenyuh ketika tau bahwa orang tua itu ingin ke Kalimantan untuk menemui
anaknya. Mulai timbul pertanyaan dalam diri sang anak, untuk apa orang tua itu
membawa tas yang begitu besarnya? Apa isi didalamnya sehingga tas itu begitu
beratnya? Apa mungkin tas itu berisi oleh-oleh atau makanan anaknya yang akan
dia bawakan untuk anaknya? Jika benar, tak dapat dibayangkan seberapa besar
cinta dan rindunya orang tua itu kepada anaknya.
Ketika
sedang berada diruang tunggu, sang anak tak henti-hentinya memikirkan sang ibu
yang sendirian dirumah. Pikiran sang anak dibuyarkan oleh sapaan seorang ibu yang
duduk disebelahnya sambil menawarkan sepotong roti. Sang anak menolak halus
tawaran ibu itu. Ibu itu bertanya “Mau
kemana nak?” sang anak menjawab “Mau
ke Jogja buk”. Ibu itu berkata bahwa Ia memiliki tujuan yang sama dengan
sang anak. Di tengah keheningan antara mereka berdua, ibu itu tiba-tiba
bercerita tentang anak-anaknya. Ibu itu mengatakan bahwa ibu itu memiliki 3
orang anak dan semuanya sudah bekerja. Ia mengizinkan dua orang anaknya yang
pertama untuk pergi merantau tetapi Ia tak mengizinkan si bungsu untuk bekerja
di tempat yang jauh dari rumah. Kemudian sang anak bertanya sebab apa yang
membuat ibu itu tak mengizinkan si bungsu untuk merantau. Ibu itu lantas
menjawab “sebab aku tak tahan dengan rindu. Biarlah bungsuku menjadi obat
penawar untuk rinduku pada anak-anaku yang lain”. Sang anak tiba-tiba teringat
pada ibunya yang begitu kuat melawan sepi dan rindunya.
Entah
mengapa disaat sang anak ingin melupakan kesedihan pada ibunya, Ia malah
dipertemukan dengan orang-orang yang membuatnya tak bisa berdamai dengan rindu.
Mungkin ada hal baik dari kejadian-kejadian itu. Sebab Tuhan selalu punya
skenario terbaik untuk hambanya. Mungkin saja orang-orang tersebut sebagai
pengingat bahwa kelahirannya di dunia ini untuk menciptakan kebahagiaan untuk
orang tuanya. Seorang sahabat pernah berkata padaku bahwa tidak ada instrumen
yang bisa mengalahkan rindu sebab obat rindu hanyalah bertemu.

Tidak ada komentar: